60 sirah sahabat Rasulullah Saw #Khalid Muhammad Khalid#Al-I'tishom

 

Mush’ab Bin Umair

“Duta Islam yang Pertama”

              Mush’ab bin Umair adalah satu diantara para sahabat Nabi Saw. Dia seorang remaja Quraisy yang paling menonjol, paking tampan, dan paling bersemangat. Para penulis Sejarah biasa menyebutnya sebagai “Pemuda Mekah yang menjadi sanjungan semua orang”. Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan. Bisa jadi, tak seorang pun diantara anak muda Mekah yang dimanjakan kedua orangtuanya seperti yang didapatkan Mush’ab bin Umair.

              Suatu hari, anak muda ini mendengar berita tentang Muhammad yang selama ini dikenal jujur menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Mengajak umat manusia beribadah kepada Allah yang Maha Esa.

              Diantara berita yang didengarnya ialah Rasulullah bersama pengikutnya biasa berkumpul di suatu tempat yang jauh dari gangguan orang-orang Quraisy. Yaitu di bukit Shafa, di rumah Arqam bin Abul Arqam, Dia pun segera mengambil keputusan. Disuatu senja, dia bergegas ke rumah Arqam bin Abul Arqam.

              Mush’ab masuk dan duduk di sudut ruangan. Ayat-ayat Al-Qur’an mulai mengalir dari hati Rasulullah. Bergema melalui kedua bibir beliau. Mengalir menembus telinga, merasuk kedalam hati. Rasulullah mendekatinya, mengusap dada Mush’ab dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, hanya dalam waktu yang singkat, pemuda yang telah masuk Islam itu berubah menjadi pemuda yang arif dan bijaksana. Jauh melebihi usianya.

              Khunas binti Malik, ibunda Mush’ab adalah seorang Wanita yang berkepribadian kuat. Ia seorang Wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush’ab masuk Islam, tiada suatu kekuatan pun yang ditakutinya selain ibunya sendri. Bahkan, seandainya seluruh Mekah, termasuk berhala-berhala, para pembesar dan padang pasirnya berubah menjadi satu kekuaan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, Mush’ab tidak akan bergeming sedikit pun. Akan tetapi, jika ibunya yang menjadi penghalang, maka itulah rintangan yang sesungguhnya.

              Saat ini, Musha’ab berdiri di hadapan ibu dan sanak kerabatnya, serta para pembesar Mekah. Dengan hati mantap dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah membersihkan hati para pengikutnya. Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang bergerak cepat itu jatuh terkulai, saat melihat Cahaya yang membuat wajah yang berseri itu kian berwibawa dan patut diindahkan. Cahaya yang menimbulkan ketenagnan dan rasa pasrah.

              Karena rasa keibuannya, ibunda Mush’ab tidak jadi memukul putranya. Akhirnya Mush’ab disekap di satu kamar, dikunci rapat dari luar. Untuk beberapa Mush’ab terkurung dalam ruangan itu, hingga dia mendengar kabar bahwa beberapa sahabat Nabi Saw hijrah ke Habasyah. Dengan sedikit strategi, dia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil lolos dri kurungan dan ikut hijrah ke Habasyah. Baik di Habasyah maupun di Mekah, keimanan Mush’ab semakin mantap.

              Pada suatu hari, ia menghampiri kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah Saw. Melihat penampilan Mush’ab mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang menangis. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah using yang bertambal-tambal. Padahal, masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilannya sebelum masuk Islam. Pakaiannya ibarat bunga ditaman, menebarkan aroma wewangian. Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush’ab kepada berhala sembahannya, dia menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mush’ab. Bahkan, dia tidak mengizinkan makanannya dimakan orang yang telah mengingkari berhala-berhala itu, meskipun orang itu adalah anak kandungnya sendiri.

              Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah, ‘Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu lagi.” Mush’ab menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai Ibu, aku sangat sayang kepada ibu. Karena itu, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Sang ibu menjawab dengan marah, “Demi Bintang gemintang, aku tidak adakn masuk ke agama itu. Otakku bisa rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lain.” Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang pernah dialaminya, dan memilih hidup miskin serta kekurangan.

              Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melaksanakan tugas menjadi utusan Rasullah ke Madinah. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Juga untuk mengajak orang lain menganut agama Islam, dan mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah ke kota itu.

              Di Madinah, Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampingi As’ad, ia mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Menyampaikan “bahwa hanya Allah yang berhak disembah” dengan sangat hati-hati.

              Suatu hari, ketika sedang berdakwah ditengah orang-orang suku Abdul Asyhal, tiba-tiba Usaid bin Hudair, sang kepala suku muncul dengan menghunus tombak. Usaid muncul dengna kemarahan yang membuncah. Ada orang yang akan meyelewengkan penduduknya dari keyakinan mereka. Mengajak mereka meinggalkan tuhan-tuhan mereka dan beralih ke satu Tuhan. Sedangkan tuhan yang baru tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijumpai. Usaid mendekati Mush’ab dan As’ad. Dengan kasar berkata, “Apa maksud kalian datang ke kabilah kami ini? Apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tidak ingin nayawa kalian melayang.”

              Seperti tenang dan mantapnya Samudra, laksana damainya Cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati Mush’ab, dan bergeraklah bibirnya mengeluarkan kata-kata menyejukkan, ‘Mengapa Anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti Anda tertarik, Anda dapat menerimanya. Dan jika nanti Anda tidak suka, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai.” “Baiklah”, kata Usaid. Lalu ia duduk dan meletakkan tombaknya. Mush’ab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Muhammad Saw. Bacaan dan uraian Mush’ab mengalir ke telinga Usaid, memasuki dada dan menerangi hati yang ada didalamnya. Belum usai Mush’ab membaca dan memberikan uraian, tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata,”Alangkah indah kata-kata ini. Tidak ada satu kesalahanpun. Apa yang harus dilakukan orang yang masu masuk agama ini?”

              Mush’ab berkata, “Hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan Asyhadu an la ilaaha illahhah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Berita ini tersebar dengan sangat cepat, secepat Cahaya. Sa’ad bn Mu’adz juga mendatangi Mush’ab. Setelah itu ia pun masuk Islam, kemudian Sa’ad bin Ubadah juga masuk Islam.

              Masuk Islamnya ketiga tokoh ini berarti pintu lebar bagi masuk Islamnya para penduduk Madinah. Mereka berkata, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah sudah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Mari kita temui Mush’ab dan menyatakan keislaman kita.” Kata orang, “Kebenaran itu terpancar dari setiap kata-katanya.”

              Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada tara. Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

              Marilah kita dengarkan apa yang diceritakan oleh saksimata. Bagaimana saat-saat terakhir sebelumMush’ab bin Umair gugur sebagai syahid.

              Ibnu Sa’d menyebutkan bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil berkata, “Ayahku pernah bercerita begini, ‘Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera pasukan di perang Uhud. Tatkala barisan kaum Muslimin porak poranda, Mush’ab tetap gigih berperang. Seorang tentara berkuda musuh, Ibnu Qamiah, menyerangnya dan berhasil menebas tangan kanannya hingga putus. Mush’ab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.” Lalu, bendera itu diambil dengan tangan kirinya dan ia kibarkan. Usuh pun menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk kea rah bendera pasukan, lalu dengan kedua panggal tangannya ia mendekap dan mengibarkan bendera itu sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.” Orang berkuda itu menyerangnya lagi dengan tombak, menghujamkannya ke dada Mush’ab. Mush’ab pun gugur sebagai Bintang dan mahkota para syuhada.

              Rasulullah berdiri memandangi jasad Mush’ab dengan penuh kasih sayang dan Cahaya kesetiaan. Beliau bersabda, “Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya daripada kamu. Tetapi sekarang ini, rambutmu kusut, hanya dibalut sehelai burdah.”


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕

 

Komentar