Inspiring People

OM BOB SADINO

Pria yang lahir di Tanjung Karang, Lampung, pada tanggal 9 Maret 1933 adalah Sosok berambut putih, bercelana pendek, dan kadang menghisap rokok dari cangklongnya ini begitu mudah dikenali. Gaya Bicaranya yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. ia adalah Bob Sadino, pengusaha sukses yang terkenal.

Om Bob, biasa disapa, memiliki pemikiran yang sama seperti gaya pakaiannya. Cuek, nyentrik, tidak mau banyak berteori dan terbuka terhadap siapapun.

Bagi Om Bob, kesuksesan didapat tanpa rencana, semua mengalir begitu saja. Jangan terlalu banyak berteori dan berencana. Habis waktu, lebih baik "langsung terjun" dan total menjalaninya.

Laki-laki ini merupakan salah satu sosok enterpreneur yang sukses. Tiga puluh tahun lebih ia harus jatuh bangun membangun bisnis supermarketnya. "Saya bukan berasal dari keluarga enterpreneur. Jadi, semuanya saya lakukan sendiri. Mulai dari beternak ayam sendiri, berdagang telor dari rumah ke rumah bersama istri, sampai belajar bercocok tanam hidroponik".
Kehidupan Om Bob bisa dikatan naik turun, sebelum ke Jakarta pada 1958, Bob Sadino adalah orang mapan. Bekerja di perusahaan asing di Amsterdam, Belanda dan Hamburg Jerman, mereka hidup berkecukupan. tetapi, jiwanya yang ingin bebas berkreasi dan rindu pada kampung halaman yang mendorongnya pelang ke tanah air.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi dirinya sendiri dan istrinya, berbekal 2 (dua) buah mobil sedan Mercedes buatan tahun 1960 an, Om Bob memulai hidupnya di jakarta. Satu mobil dijual dan dibelikan sebidang tanah di daerah Kemang. Satu lagi dijadikan taksi dan disupiri sendiri untuk mencari nafkah. Tapi naas, mobil yang dibawanya tabrakan dan hancur. "Hati saya ikut hancur, karena tidak ada lagi uang untuk hidup".
Secepatnya, Om Bob mencari kerja, kali ini menjadi kuli bangunan dengan upah harian Rp. 100,- Ditengah kehancuran hatinya, seorang temannya menyarankan Om Bob untuk memelihara ayam. Om Bob tertarik. Ia pun menulis surat ke teman-temannya di Belanda untuk dikirimi ayam petelur, karena waktu itu orang belum terbiasa mengkonsumsi telur. "Ini peluang bisnis yang baik,sayalah orang pertama yang mengenalkan telur ke bangsa ini".

Dalam waktu singkat, Om Bob mulai beternak ayam boiler dan menjual produknya ke tetangganya, tetapi para tetangganya tidak suka dengan telur yang besar-besar, karena mereka biasa makan telur ayam kampung. Telur Om Bob tidak laku, tapi hal itu tidak mematahkan semangatnya. Untungnya, di daerah Kemang banyak bule-bule yang tinggal. Om Bob berfikir, lebih baik menjual telur-telur itu ke orang-orang asing yang sudah biasa makan telur besar-besar. Pemikirannya tidak meleset, Bule-bule itu senang, bahkan mereka minta disediakan merica, garam dan daging-daging olahan seperti sosis.










Komentar

Posting Komentar